Rasa percaya diri adalah satu diantara aspek-aspek kepribadian yang penting dalam kehidupan manusia. Alfred Adler mencurahkan dirinya pada penyelidikan rasa rendah diri. Ia mengatakan bahwa kebutuhan yang paling penting adalah kebutuhan akan rasa percaya diri dan rasa superioritas (Lauster, 1999: 10).
Menurut Koentjaraningrat , salah satu kelemahan generasi muda Indonesia adalah kurangnya rasa percaya diri. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Afiatin dkk, terhadap siswa SMTA di Kodia Yogyakarta menunjukkan bahwa permasalahan yang banyak dirasakan dan dialami oleh remaja pada dasarnya disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri (Martaniah, 1998: 66).
Martin (1974: 2) melakukan penelitian tentang rasa percaya diri pada 144 pelajar Indian pada BIA Boerding School yang berada di Oklahoma. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pelajar yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan lebih cepat untuk menyelesaikan studinya dibandingkan dengan pelajar yang memiliki rasa percaya diri lebih rendah.
Kloosterman (1988: 348) meneliti pada pelajar School in South-Central Indiana dengan jumlah 266 wanita dan 233 pria. Ia meneliti tentang rasa percaya diri pada pelajar. Ternyata rasa percaya diri sangat penting bagi pelajar untuk berhasil dalam belajar matematika. Dengan adanya rasa percaya diri, maka akan lebih termotivasi dan lebih menyukai untuk belajar matematika, sehingga pelajar yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi lebih berhasil dalam belajar matematika.
Penelitian yang dilakukan oleh Panduranti (2001: 59) tentang hubungan antara rasa percaya diri dan perilaku konsumtif pada mahasiswi. Subjek penelitian yang terdiri dari beberapa mahasiswi Universitas Muhammadiyah malang ini menunjukkan bahwa percaya diri mempunyai hubungan negatif dengan perilaku konsumtif. Maksudnya apabila rasa percaya diri individu tinggi maka perilaku konsumtifnya rendah, begitu pula sebaliknya. Individu yang memiliki rasa percaya diri rendah maka perilaku konsumtifnya tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Gandamana (2000: 50) tentang hubungan rasa percaya diri dengan penyesuaian sosial pada remaja di panti asuhan menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara rasa percaya diri dengan penyesuaian sosial pada remaja. Penelitian terhadap remaja di panti asuhan anak yatim Mabarrot Sunan Giri Malang ini menunjukkan bahwa semakin positif atau tinggi rasa percaya diri akan diikuti semakin positif atau tinggi penyesuaian sosial yang dialami individu.
Sehubungan dengan penelitian di atas, Marfiyanti (2001: 58) meneliti tentang hubungan rasa percaya diri dengan efektifitas komunikasi pada pasangan muda. Berdasarkan dari hasil penelitiannya ia menyimpulkan bahwa semakin tinggi rasa percaya diri maka semakin tinggi pula efektifitas komunikasi individu. Penelitian dengan subjek sebanyak 40 orang dengan pendidikan SMU hingga S1 ini diketahui ternyata faktor percaya pada kemampuan pribadi merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap rasa percaya diri dibanding faktor lainnya. Hal ini disebabkan karena seseorang yang percaya pada kemampuan yang dimilikinya atau dengan kata lain memilki keyakinan yang positif akan lebih percaya diri, sehingga akan mempunyai keberanian untuk berkomunikasi dan lebih bersikap terbuka dengan pasangannya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zimat (2002: 2) dari sekolah kedokteran Universitas Indiana Polis, bahwa remaja putri yang kurang memiliki rasa percaya diri lebih cenderung melakukan seks bebas daripada remaja putri yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini karena mereka membutuhkan pengakuan dari lawan jenisnya dan memiliki ikatan atau seseorang yang dapat dijadikan teman terdekat untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka.
Rasa percaya diri merupakan faktor yang dapat menyembuhkan stres seseorang dari hasil penelitian yang dilakukan pada pelajar SLTP/ SMUN Ragunan menunjukkan bahwa salah satu sumber stres yang dialami oleh atlet pelajar adalah kurangnya rasa percaya diri dan adanya pikiran negatif (Nasution, 2001: 3).
Sudirman Siahaan (dalam Ghozali, 2001: 2) menyampaikan hasil penelitian tentang pendidikan dan latihan jarak jauh penyuluhan pertanian dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup petani di Kabupaten Ogan Komering Hilir SUMSEL, pesertanya adalah petugas penyuluhan pertanian kelompok lulusan sekolah pertanian pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek merasa lebih percaya diri dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari karena subjek mendapatkan wawasan yang luas dan pola pikir yang lebih maju setelah mereka mengikuti diklat.
Selain itu, sebuah penelitian baru menemukan bahwa para remaja putri yang memutuskan untuk berhenti merokok ternyata memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Errin Perkle dari National Senter on Addction Substacion Abuse di Kolombia University New York menyampaikan hasil temuannya di pertemuan tahunan American Psychological Society bahwa, hasil survei yang dilakukan bersama Linda Ricther terhadap 6.500 remaja putri yang berusia antara 13-15 tahun menunjukkan remaja putri lebih merasa percaya diri setelah berhenti merokok dibandingkan sebelum berhenti merokok ( Ruslaini, 2002 : 1).
Lowe (2002: 1) mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan pada wanita yang akan melahirkan untuk pertama kalinya cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah. Wanita dengan rasa percaya diri yang tinggi akan lebih mudah dalam proses persalinan. Sedangkan wanita dengan percaya diri yang rendah akan selalu merasa takut dan khawatir sehingga mempersulit proses persalinan bagi mereka.
Mas’ unah (2001: 50) meneliti tentang perbedaan percaya diri remaja yang mempunyai orang tua cerai dan orang tua tidak cerai di kecamatan Mayar kabupaten Gresik. Penelitian yang dilakukan pada 60 remaja yang terdiri dari 30 remaja yang mempunyai orang tua cerai di desa Peganden dan 30 remaja dari orang tua tidak cerai di desa Sidomukti menunjukkan bahwa ada perbedaan tentang rasa percaya diri remaja yang mempunyai orang tua cerai dengan remaja yang mempunyai orang tua tidak cerai. Remaja yang memiliki orang tua tidak cerai percaya dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang memiliki orang tua cerai.
Lebedour (2000: 155) meneliti di 25 universitas yang ada di 5 negara, United State, Nederland, Israel, Palestine, dan Taiwan. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa rasa percaya diri dipengaruhi oleh jenis kelamin dan kebudayaan. Perbedaan jenis kelamin membawa perbedaan pada rasa percaya diri. Selain itu penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Barat lebih memiliki rasa percaya diri daripada kebudayaan Asean.
Jhonson (1999: 55) meneliti pada 363 pelajar di 3 sekolah dasar umum dengan 174 wanita dan 189 pria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin mengakibatkan perbedaan rasa percaya diri pada pelajar.
Penelitian yang dilakukan bekerjasama dengan rumah sakit Universitas ULM ternyata anak-anak yang mempunyai kelebihan berat badan memiliki rasa percaya diri yang rendah (siaran, 2002: 2).
Syukur (2000: 52) meneliti tentang perbedaan sikap mahasiswa terhadap kepemimpinan wanita dalam poltik ditinjau dari jenis kelamin, aktivis/non aktivis dan agama. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan sikap kepemimpinan wanita dalam politik antara subjek yang berstatus aktivis lebih positif dibanding subjek yang berstatus non aktivis.
Yanti (2001: 67) meneliti tentang perbedaan motif berprestasi antara mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi intra kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki motif berprestasi yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Mahasiswa yang aktif dalam organisai memiliki usaha yang lebih keras dan lebih segera dalam melaksanakan tugas-tugas yang diterima, ada usaha-usaha untuk mengungguli hasil kerja sebelumnya dan pekerjaan orang lain, memerlukan umpan balik dari hasil kerja, lebih terbuka terhadap kritik, ada usaha untuk memperbaiki diri, lebih memilih seorang yang ahli daripada teman baik, dan kemampuan untuk mengatasi masalah.
Rahman (1996: 56) meneliti tentang hubungan antara prestasi belajar pendidikan politik dengan partisipasi politik mahasiswa IKIP Malang dalam organisasi kemahasiswaan ekstra universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar pendidikan kewiraan aktivis atau pengurus organisasi kemahasiswaan ekstra universitas adalah sangat baik.
Yunaiha (2001: 47) meneliti tentang perbedaan perilaku assertif antara mahasiswa aktifis dan non–aktifis dalam organisasi kemahasiswaan di fakultas psikologi. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa fakultas psikologi semester IV – VIII UMM diketahui bahwa terdapat perbedaan perilaku assertif yang sangat signifikan antara mahasiswa yang aktif di organisasi (aktifis) dan mahasiswa yang tidak aktif di organisasi (non aktif). Mahasiswa yang aktif diorganisasi memilki perilaku assertif yang lebih tinggi disbanding dengan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi.
Khamim (2000: 41) mengadakan penelitian tentang perbedaan kepekaan sosial antara mahasiswa yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa UMM yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan menunjukkan ada perbedaan kepekaan sosial yang sangat signifikan antara mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan intra kampus. Diketahui bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan intra kampus memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak aktif.
Dari beberapa hasil penelitian yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa rasa percaya diri mempunyai hubungan dengan prestasi, motivasi belajar, perilaku konsumtif, perilaku sex, kegiatan merokok, mempermudah proses persalinan, stress pada individu, komunikasi individu dan penyesuaian sosial. Rasa percaya diri ini dipengaruhi oleh jenis kelamin, kebudayaan, wawasan dan pola pikir yang luas, perceraian orang tua serta penampilan fisik seseorang. Sedangkan mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan memilki kepekaan sosial yang tinggi, lebih berperilaku assertif, memiliki motif belajar yang bagus, berprestasi, memiliki sikap yang positif pada kepemimpinan wanita dalam politik. Berdasarkan kesimpulan ini peneliti tertarik untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan dengan rasa percaya diri.
Deskripsi Alternatif :
Rasa percaya diri adalah satu diantara aspek-aspek kepribadian yang penting dalam kehidupan manusia. Alfred Adler mencurahkan dirinya pada penyelidikan rasa rendah diri. Ia mengatakan bahwa kebutuhan yang paling penting adalah kebutuhan akan rasa percaya diri dan rasa superioritas (Lauster, 1999: 10).
Menurut Koentjaraningrat , salah satu kelemahan generasi muda Indonesia adalah kurangnya rasa percaya diri. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Afiatin dkk, terhadap siswa SMTA di Kodia Yogyakarta menunjukkan bahwa permasalahan yang banyak dirasakan dan dialami oleh remaja pada dasarnya disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri (Martaniah, 1998: 66).
Martin (1974: 2) melakukan penelitian tentang rasa percaya diri pada 144 pelajar Indian pada BIA Boerding School yang berada di Oklahoma. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pelajar yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan lebih cepat untuk menyelesaikan studinya dibandingkan dengan pelajar yang memiliki rasa percaya diri lebih rendah.
Kloosterman (1988: 348) meneliti pada pelajar School in South-Central Indiana dengan jumlah 266 wanita dan 233 pria. Ia meneliti tentang rasa percaya diri pada pelajar. Ternyata rasa percaya diri sangat penting bagi pelajar untuk berhasil dalam belajar matematika. Dengan adanya rasa percaya diri, maka akan lebih termotivasi dan lebih menyukai untuk belajar matematika, sehingga pelajar yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi lebih berhasil dalam belajar matematika.
Penelitian yang dilakukan oleh Panduranti (2001: 59) tentang hubungan antara rasa percaya diri dan perilaku konsumtif pada mahasiswi. Subjek penelitian yang terdiri dari beberapa mahasiswi Universitas Muhammadiyah malang ini menunjukkan bahwa percaya diri mempunyai hubungan negatif dengan perilaku konsumtif. Maksudnya apabila rasa percaya diri individu tinggi maka perilaku konsumtifnya rendah, begitu pula sebaliknya. Individu yang memiliki rasa percaya diri rendah maka perilaku konsumtifnya tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Gandamana (2000: 50) tentang hubungan rasa percaya diri dengan penyesuaian sosial pada remaja di panti asuhan menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara rasa percaya diri dengan penyesuaian sosial pada remaja. Penelitian terhadap remaja di panti asuhan anak yatim Mabarrot Sunan Giri Malang ini menunjukkan bahwa semakin positif atau tinggi rasa percaya diri akan diikuti semakin positif atau tinggi penyesuaian sosial yang dialami individu.
Sehubungan dengan penelitian di atas, Marfiyanti (2001: 58) meneliti tentang hubungan rasa percaya diri dengan efektifitas komunikasi pada pasangan muda. Berdasarkan dari hasil penelitiannya ia menyimpulkan bahwa semakin tinggi rasa percaya diri maka semakin tinggi pula efektifitas komunikasi individu. Penelitian dengan subjek sebanyak 40 orang dengan pendidikan SMU hingga S1 ini diketahui ternyata faktor percaya pada kemampuan pribadi merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap rasa percaya diri dibanding faktor lainnya. Hal ini disebabkan karena seseorang yang percaya pada kemampuan yang dimilikinya atau dengan kata lain memilki keyakinan yang positif akan lebih percaya diri, sehingga akan mempunyai keberanian untuk berkomunikasi dan lebih bersikap terbuka dengan pasangannya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zimat (2002: 2) dari sekolah kedokteran Universitas Indiana Polis, bahwa remaja putri yang kurang memiliki rasa percaya diri lebih cenderung melakukan seks bebas daripada remaja putri yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini karena mereka membutuhkan pengakuan dari lawan jenisnya dan memiliki ikatan atau seseorang yang dapat dijadikan teman terdekat untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka.
Rasa percaya diri merupakan faktor yang dapat menyembuhkan stres seseorang dari hasil penelitian yang dilakukan pada pelajar SLTP/ SMUN Ragunan menunjukkan bahwa salah satu sumber stres yang dialami oleh atlet pelajar adalah kurangnya rasa percaya diri dan adanya pikiran negatif (Nasution, 2001: 3).
Sudirman Siahaan (dalam Ghozali, 2001: 2) menyampaikan hasil penelitian tentang pendidikan dan latihan jarak jauh penyuluhan pertanian dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup petani di Kabupaten Ogan Komering Hilir SUMSEL, pesertanya adalah petugas penyuluhan pertanian kelompok lulusan sekolah pertanian pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek merasa lebih percaya diri dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari karena subjek mendapatkan wawasan yang luas dan pola pikir yang lebih maju setelah mereka mengikuti diklat.
Selain itu, sebuah penelitian baru menemukan bahwa para remaja putri yang memutuskan untuk berhenti merokok ternyata memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Errin Perkle dari National Senter on Addction Substacion Abuse di Kolombia University New York menyampaikan hasil temuannya di pertemuan tahunan American Psychological Society bahwa, hasil survei yang dilakukan bersama Linda Ricther terhadap 6.500 remaja putri yang berusia antara 13-15 tahun menunjukkan remaja putri lebih merasa percaya diri setelah berhenti merokok dibandingkan sebelum berhenti merokok ( Ruslaini, 2002 : 1).
Lowe (2002: 1) mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan pada wanita yang akan melahirkan untuk pertama kalinya cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah. Wanita dengan rasa percaya diri yang tinggi akan lebih mudah dalam proses persalinan. Sedangkan wanita dengan percaya diri yang rendah akan selalu merasa takut dan khawatir sehingga mempersulit proses persalinan bagi mereka.
Mas’ unah (2001: 50) meneliti tentang perbedaan percaya diri remaja yang mempunyai orang tua cerai dan orang tua tidak cerai di kecamatan Mayar kabupaten Gresik. Penelitian yang dilakukan pada 60 remaja yang terdiri dari 30 remaja yang mempunyai orang tua cerai di desa Peganden dan 30 remaja dari orang tua tidak cerai di desa Sidomukti menunjukkan bahwa ada perbedaan tentang rasa percaya diri remaja yang mempunyai orang tua cerai dengan remaja yang mempunyai orang tua tidak cerai. Remaja yang memiliki orang tua tidak cerai percaya dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang memiliki orang tua cerai.
Lebedour (2000: 155) meneliti di 25 universitas yang ada di 5 negara, United State, Nederland, Israel, Palestine, dan Taiwan. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa rasa percaya diri dipengaruhi oleh jenis kelamin dan kebudayaan. Perbedaan jenis kelamin membawa perbedaan pada rasa percaya diri. Selain itu penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Barat lebih memiliki rasa percaya diri daripada kebudayaan Asean.
Jhonson (1999: 55) meneliti pada 363 pelajar di 3 sekolah dasar umum dengan 174 wanita dan 189 pria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin mengakibatkan perbedaan rasa percaya diri pada pelajar.
Penelitian yang dilakukan bekerjasama dengan rumah sakit Universitas ULM ternyata anak-anak yang mempunyai kelebihan berat badan memiliki rasa percaya diri yang rendah (siaran, 2002: 2).
Syukur (2000: 52) meneliti tentang perbedaan sikap mahasiswa terhadap kepemimpinan wanita dalam poltik ditinjau dari jenis kelamin, aktivis/non aktivis dan agama. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan sikap kepemimpinan wanita dalam politik antara subjek yang berstatus aktivis lebih positif dibanding subjek yang berstatus non aktivis.
Yanti (2001: 67) meneliti tentang perbedaan motif berprestasi antara mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi intra kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki motif berprestasi yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Mahasiswa yang aktif dalam organisai memiliki usaha yang lebih keras dan lebih segera dalam melaksanakan tugas-tugas yang diterima, ada usaha-usaha untuk mengungguli hasil kerja sebelumnya dan pekerjaan orang lain, memerlukan umpan balik dari hasil kerja, lebih terbuka terhadap kritik, ada usaha untuk memperbaiki diri, lebih memilih seorang yang ahli daripada teman baik, dan kemampuan untuk mengatasi masalah.
Rahman (1996: 56) meneliti tentang hubungan antara prestasi belajar pendidikan politik dengan partisipasi politik mahasiswa IKIP Malang dalam organisasi kemahasiswaan ekstra universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar pendidikan kewiraan aktivis atau pengurus organisasi kemahasiswaan ekstra universitas adalah sangat baik.
Yunaiha (2001: 47) meneliti tentang perbedaan perilaku assertif antara mahasiswa aktifis dan non–aktifis dalam organisasi kemahasiswaan di fakultas psikologi. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa fakultas psikologi semester IV – VIII UMM diketahui bahwa terdapat perbedaan perilaku assertif yang sangat signifikan antara mahasiswa yang aktif di organisasi (aktifis) dan mahasiswa yang tidak aktif di organisasi (non aktif). Mahasiswa yang aktif diorganisasi memilki perilaku assertif yang lebih tinggi disbanding dengan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi.
Khamim (2000: 41) mengadakan penelitian tentang perbedaan kepekaan sosial antara mahasiswa yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa UMM yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan menunjukkan ada perbedaan kepekaan sosial yang sangat signifikan antara mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan intra kampus. Diketahui bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan intra kampus memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak aktif.
Dari beberapa hasil penelitian yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa rasa percaya diri mempunyai hubungan dengan prestasi, motivasi belajar, perilaku konsumtif, perilaku sex, kegiatan merokok, mempermudah proses persalinan, stress pada individu, komunikasi individu dan penyesuaian sosial. Rasa percaya diri ini dipengaruhi oleh jenis kelamin, kebudayaan, wawasan dan pola pikir yang luas, perceraian orang tua serta penampilan fisik seseorang. Sedangkan mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan memilki kepekaan sosial yang tinggi, lebih berperilaku assertif, memiliki motif belajar yang bagus, berprestasi, memiliki sikap yang positif pada kepemimpinan wanita dalam politik. Berdasarkan kesimpulan ini peneliti tertarik untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan dengan rasa percaya diri.
Sumber : http://digilib.itb.ac.id
Friday, February 20, 2009
PERBEDAAN RASA PERCAYA DIRI ANTARA MAHASISWA YANG AKTIF DENGAN MAHASISWA YANG TIDAK AKTIF DALAM ORGANISASI KEMAHASISWAAN
MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI
Banyak ahli menilai, percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri.
Dalam dimensi yang sangat luas, sukses adalah milik semua orang. Tetapi, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan atau meraih kesuksesan. Kebanyakan orang menilai bahwa kesuksesan adalah milik orang-orang yang ber-IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan memilih spesialisasi yang paling terkenal.
Penilaian ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi kita juga harus melihat fenomena yang lebih luas, bahwa tidak sedikit orang-orang sukses yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dengan kata lain, IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan spesialisasi yang terkenal hanyalah bagian dari penunjang kesuksesan.
Di luar kemampuan itu, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam memprediksi kesuksesan seseorang; itulah yang kita sebut, antusiasme, hasrat, ketekunan, kerja keras, serta kebulatan tekad seumur hidup yang dimilikinya.
Sebagian pakar menilai bahwa untuk mencapai sukses, kematangan pribadi seseorang sangat dibutuhkan. Sebab kematangan pribadi akan mengantarkan seseorang pada sikap optimis dan kesadaran bahwa apa yang dicita-citakannya akan mudah diraih.
Di sisi lain, meraih kesuksesan jelas bukanlah perkara gampang. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang kita inginkan, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada kalanya seseorang begitu tegar, tetapi tidak sedikit juga yang patah semangat bahkan menyerah karena merasa tidak sanggup menghadapi tantangan yang ada di depannya.
Pada saat semacam inilah, rasa percaya diri sangat penting ditumbuhkan. Banyak ahli menilai bahwa percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri. Berikut ini adalah beberapa kiat guna membangun percaya diri.
Pertama, berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.
Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil "sempurna" tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.
Kedua, kembangkan nilai positif. Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti kata, "Saya tidak bisa," menjadi, "Saya bisa!"
Ketiga, bacalah potensi diri. Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Misalnya dengan bertanya kepada orang-orang terdekat. Termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli seperti psikiater, dokter bahkan kiai untuk melacak potensi kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang kita miliki tanpa kita sadari, sehingga tidak berhasil kita gali.
Keempat, berani mengambil risiko. Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab daripada menyerah pada rasa takut alangkah lebih baik belajar mengambil risiko yang masuk akal. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin.
Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.
Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah Azza wa Jalla. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?
Kelima, tolaklah saran negatif. Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Sebagian dari orang yang ada di sekitar kita mungkin berpikiran negatif. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita.
Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita. Keenam, ikuti saran positif. Rasa percaya diri merupakan sifat "menular". Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dsb, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.
Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.
Ketujuh, jadikan keresahan sebagai kawan. Banyak peristiwa atau saat-saat dalam kehidupan yang dapat membuat kita mengalami rasa cemas atau gelisah. Akibatnya, kita mengalami krisis percaya diri. Saat itulah kita harus mulai mengingatkan diri sendiri bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan kawan. Tingkatkan energi, tajamkan kecerdasan, tinggikan kewaspadaan, dan kembangkan pancaindera. Daripada menyia-nyiakan energi untuk kecemasan yang sia-sia, lebih baik menghadapi tantangan itu secara tegas dan efektif.
Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa, karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Allah. Semakin kokoh ibadah kita, shalat kita, makin kuat doa-doa kita, dan keyakinan kita dengan pertolongan Allah, maka itu bisa meningkatkan percaya diri.
Kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah menciptakan kita benar-benar dengan perhitungan dan pertimbangan Yang Mahacermat. Seperti di firmankan Allah SWT dalam Quran surat at-Tiin ayat 4, "La qad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim" (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Wallahu a`lam.n deny riana/mqp
Sumber : http://www.republika.co.id/
Collection Percaya diri
Friday, February 13, 2009
Kebijakan Moneter Bank Indonesia dan Peningkatan Pendapatan Nasional
Oleh : Masngud Zauzi,SE.I
Perekonomian nasional akan semakin membaik apabila semua pihak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dan penuh rasa tanggungjawab. Pihak-pihak tersebut adalah pemerintah (dalam hal ini Bank Indonesia), perbankan, masyarakat, dan peminjam (investor atau pengusaha).
Bank adalah salah satu badan usaha finansial yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan /atau pembiayaan lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak (UU perbankan pasal 1). Berdasarkan Undang-undang perbankan tahun 1992, disebutkan bahwa bank terdiri atas dua jenis, yaitu bank umum dan BPR.
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syari’ah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayarannya. Bank sentral (Bank Indonesia) bertugas mengendalikan jumlah uang yang beredar seoptimal mungkin, dengan tujuan nasional yaitu menciptakan harga yang stabil, pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan kesempatan kerja yang memadai. Bank umum bertindak sebagai sarana yang menjalankan kebijakan Bank Indonesia (Darmawi : 2006).
Perbankan sebagai pendongkrak dan pemicu kemajuan ekonomi mempunyai peran yang sangat penting. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia ( BI ) untuk menjaga kestabilan berjalannya usaha lembaga keuangan bank, sangat mampu mengakomodir keleluasaan bank dalam menjalankan usahanya. Bank dalam menjalankan aktivitasnya akan tergantung pada kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan oleh BI, misalnya kewajiban menyetorkan dana berupa Giro Wajib Minimum (GWM) kepada bank sentral (Bank Indonesia). Dana yang disetorkan akan digunakan sebagai dana cadangan untuk menghindari terjadinya likuidasi (untuk menjaga likuidtas bank).
Bank Indonesia mempunyai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, BI memerlukan instrumen kebijakan moneter untuk memengaruhi penawaran uang, antara lain:
1. Cadangan Wajib (Giro Wajib Minimum)
2. Operasi Pasar Terbuka Dengan Persetujuan Pembelian Kembali (Open market repurchase agreements), dan
3. Suku Bunga Diskonto.
Dengan instrumen tersebut, Bank Indonesia akan berinteraksi dengan bank-bank komersial dalam proses penciptaan uang. Perbankan nasional saat ini menganut fractional reserve banking system, yang berarti bahwa suatu bank harus menahan atau mencadangkan sebagian dana tertentu yang didepositokan oleh deposan. Misalnya, bank menerima deposit Rp 100 juta dan rasio cadangan 10%, maka dana yang harus disetorkan ke Bank Indonesia ( BI ) sebesar Rp 10 juta. Dengan demikian, bank umum dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik dan Bank Indonesia dapat mengawasi usaha yang dijalankan oleh bank umum. Kebijakan Bank Indonesia dalam menetapkan cadangan wajib perbankan (bank reserve) akan memengaruhi uang tunai dalam sistem perbankan umum. Oleh karena itu, bank umum akan mengubah jumlah pembiayaan atau kredit (pinjaman) dan investasi-investasi yang akan diberikan kepada masyarakat. Dengan kebijakan tersebut akan memunculkan interaksi antara Bank Indonesia, bank umum dan masyarakat. Bank Indonesia atau pemerintah tidak pernah ikut serta secara langsung dalam menetapkan harga atau penetapan jumlah karyawan, namum dengan kebijakan moneter yang di tetapkan oleh Bank Indonesia, secara tidak langsung BI telah turut serta dalam menetapkan harga dan jumlah tenaga kerja pada sebuah perusahaan.
Kecepatan perputaran uang beredar (velocity of money in circulation) yang stabil akan mampu meningkatkan pendapatan nasional yang diinginkan. Oleh karena itu, masyarakat yang memiliki kelebihan uang dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, akan sangat membantu perekonomian nasional apabila kelebihan uang tersebut di investasikan dalam bentuk simpanan atau tabungan pada lembaga keuangan bank. Investasi simpanan tersebut akan di investasikan kembali oleh bank kepada sektor-sektor ekonomi yang produktif. Investasi yang dilakukan oleh bank dalam bentuk pembiayaan atau kredit akan meningkatkan kualitas dan kuantitas usaha sektor ekonomi dan usaha tersebut akan semakin produktif. Semakin produktif sebuah usaha dan semakin berkembangnya sebuah usaha akan semakin membutuhkan banyak tenaga kerja dan pada akhirnya akan menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi jumlah pengangguran. Inilah mata rantai yang terlupakan oleh kita semua selama ini. Mengurangi jumlah pengangguran bukan tugas atau kewajiban pemerintah, namun menjadi tanggungjawab kita bersama. Dengan demikian, selain meningkatkan produktifitas usaha dan penyerapan tenaga kerja baru, dengan berjalannya usaha perbankan maka pendapatan nasional akan meningkat pula sebagaimana telah dijelaskan diatas.
Perbaikan kesadaran investasi dalam bentuk simpanan akan mampu mempercepat perputaran uang, semakin cepat uang berputar maka semakin cepat pula kita mendapatkan pendapatan, dan semakin cepat kita memperoleh pendapatan semakin cepat pula kita dalam memenuhi kebutuhan kita. Apabila digambarkan untuk skala nasional, maka semakin cepat pula bangsa ini bangkit dari keterpurukan dan menjauhkan diri dari bahaya laten krisis moneter.
Kebijakan moneter seharusnya dipahami oleh setiap orang, sehingga apa yang kita inginkan dari bangsa ini semakin cepat terealisasi. Perlu adanya komunikasi global untuk mencapai kebijakan moneter hingga sampai pada masyarakat secara umum. Bangsa ini akan semakin bangkit apabila masyarakatnya peduli dengan perekonomian nasional, dan pemerintah ( BI ) sebagai pemegang otoritas moneter dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan senantiasa merasa selalu diawasi setiap waktu oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Collection ekonomi
